Senja Karier Gabriel Batistuta

http://demonspin.com/wp-content/uploads/2017/02/gabriel-omar-batistuta-inter_823l9obluhi51qp41qhz5c7cb.jpg

BERITA BOLA ONLINE_Sistem jendela transfer diberlakukan UEFA secara serentak mulai musim 2002/03. Pada jendela transfer musim dingin tahun perdana penerapan itu, AS Roma melepas dua pemain. Pep Guardiola dilego ke Brescia dan satu pemain lagi dipinjamkan ke Internazionale. Pemain yang dipinjamkan itu Gabriel Batistuta.

Batigol, nama akrab Batistuta, melalui musim buruk bersama Roma sebelumnya. Setelah mencetak 21 gol dalam 31 pertandingan di musim perdana bersama Roma, ia hanya mampu mencetak enam gol dalam 12 pertandingan di musim ketiga. Giallorossi pun melepas sang striker sebagai pemain pinjaman di Inter milan.

Usianya memang sudah tidak muda lagi saat itu, baru saja memasuki 34 tahun. Bisa dikata, kondisi fisiknya sudah mengalami penurunan performa dan ketajamannya berkurang drastis dibandingkan lima tahun sebelumnya. Adapun Batigol tetap punya harapan untuk membangkitkan kegemerlapannya sebagai striker kelas wahid.

Harapan tersebut tampaknya kurang digubris oleh Hector Cuper yang tengah melatih Inter. Walau didatangkan untuk mengganti Hernan Crespo yang cedera tiga bulan, Gabigol tidak terlalu mendapat peran penting. Ini terbukti dari 12 penampilan yang ia catatkan selama dipinjamkan ke Inter. Ironisnya lagi, sang striker hanya mampu mencetak dua gol bersama Nerazzurri.

Peran Batigol memang sedikit dimundurkan karena Christian Vieri sedang moncer-moncernya bersama Inter. Bintang Italia itu bahkan mencetak 24 gol dalam 23 pertandingan di Serie A. Batistuta lebih banyak menciptakan assist untuk Vieri ketimbang mencetak gol untuk dirinya sendiri. Setengah musim bersama Inter pun diakhirinya tanpa gelar dan pengakuan Cuper, Batigol dipulangkan ke roma.

Legenda Argentina itu tampaknya mulai sadar akan senja karier pesepakbolanya. Ia tidak mendapatkan dukungan dari fans Inter sebesar dukungan yang ia terima di Fiorentina dan Roma. Rasa sakit luar biasa kadang-kadang menghampiri kakinya sampai-sampai ia berulang kali mengonsumsi pengurang rasa sakit.

Setelah mempertimbangkan matang-matang, Batistuta akhirnya mengambil langkah berani untuk kariernya: meninggalkan Italia dan bergabung ke Qatar. Eks penggawa Newell’s Old Boys itu sebenarnya ingin pulang ke Argentina, namun situasi fisiknya tidak mengizinkan itu. Qatar yang dianggap mampu memanjakan pengujung kariernya pun jadi pilihan.

While at Qatar, Oliech played alongside Stefan Effenberg and Gabriel BatistutaArgentinian Gabriel Batistuta of al-Arabi against al-Sadd during their Qatari league match at al-Rayan stadium in Doha 29 February 2004

“[Saat itu] saya telah tiba pada akhir karier profesional saya. Saya menginginkan pengalaman berbeda, saya ingin belajar tentang budaya lain. Jika saya pergi ke Spanyol atau Inggris, itu akan jadi hal yang sangat mirip dengan apa yang sudah pernah saya alami,” ungkap Batistuta beberapa waktu setelah meninggalkan Qatar.

Kepindahan Batistuta tidak semata-mata ditentukan oleh uang. Ia menyadari tubuhnya takkan bisa lagi mengimbangi intensitas sepakbola Eropa. Ketimbang menghadapkan tubuhnya pada beban baru, ia lebih memilih untuk mengajak keluarganya menikmati budaya baru. Qatar pun menjadi pilihan terbaik dan ia bergabung dengan Al Sadd.

 BACA  JUGA – Carragher: Kans Juara Liverpool Tingga Mimpli
Ternyata apa yang terjadi sesuai dengan bayangan Batistuta. Striker itu mendapatkan tempat yang sesuai dengan kondisinya saat itu. Batigol kembali mencetak gol hanya 12 menit setelah debutnya. Secara fisik, ia lebih unggul dari para pemain lokal Qatar. Bahkan setelah berusia 34 tahun dan sering cedera, Batigol tetap menjadi topskor di Qatar dengan 25 gol dalam 21 pertandingan.

Pada 2005, Batistuta akhirnya memutuskan untuk gantung sepatu. Saat itulah ia mengaku masalah lututnya semakin parah. Terlalu banyak injeksi yang diberikan semasa bermain dan rasa sakit tersebut terakumulasi seiring usianya menua. Dalam wawancara dengan TyC Sports beberapa tahun setelahnya, Batigol mengungkap rasa sakit luar biasa menghantuinya dan ia sempat meminta dokter untuk mengamputasi kakinya. Beruntung, dokter punya solusi lebih tepat dengan menanamkan beberapa partikel ke dalam kakinya – Batigol pun bisa kembali berjalan dengan cukup normal.